Sosiologi Industri, Pembukaan
Pencarian buku bacaan untuk kuliah Sosiologi Industri hanya menghasilkan dua judul :
1. Sosiologi Industri, Suatu Pengantar; tulisan Soerjono Soekanto; terbitan Remadja Karya, tahun 1987
2. Sosiologi Industri; terjemahan dari tulisan Eugene V. Schneider; terbitan Aksara Persada, 1986
Mungkin buku berikut juga bisa dipertimbangkan untuk dibaca.
3. Sosiologi dan Bisnis; terjemahan dari tulisan Honour dan Mainwaring; terbitan Bina Aksara, tahun 1988
4. Sosiologi dan Politik Ekonomi; tulisan Oman Sukmana; terbitan Universitas Muhammadiyah Malang, tahun 2005
Buku-buku sosiologi terbitan baru, khususnya setelah reformasi, akan berguna sebagai bahan bacaan. Kalau diperhatikan, buku-buku teks sosiologi terbitan masa Orde Baru, biasanya tidak membahas Marx. Bagaimanapun, Marx pernah membuat jejaknya pada sosiologi sehingga perlu dibaca untuk pengetahuan. Buku berikut cukup bagus untuk dibaca.
5. Sosiologi, Teks Pengantar dan Terapan; tulisan J. Dwi Narwoko – Bagong Suyanto (ed.); terbitan Prenada Media Group, tahun 2006.
Dari keempat buku tersebut, hanya satu yang diperoleh dari toko buku, yaitu buku nomor 4. Selebihnya diperoleh dari penjual buku bekas. Dari kenyataan ini terlintas godaan untuk menyimpulkan bahwa saat ini tidak ada kuliah Sosiologi Industri. Bahkan, ada dorongan untuk berpendapat bahwa tidak ada perhatian dari para akhli sosiologi terhadap studi Sosiologi Industri.
Tetapi, ketika dilakukan search dengan kata kunci “sosiologi industri”, tampak bahwa di beberapa universitas terkemuka terdapat mata kuliah Sosiologi Industri, khususnya di Jurusan Teknik Industri. Lalu, kalau tidak tersedia bahan bacaan yang memadai, bagaimana caranya para mahasiswa dapat belajar dengan baik?
Untuk Indonesia, yang hendak bertransformasi dari negara agraris menjadi negara industri, kenyataan ini sangat memprihatinkan.
<>
Sosiologi itu ilmu yang berkenaan dengan masyarakat. Jika kita membicarakan sosiologi industri, ada dua masyarakat yang dapat kita bicarakan. Pertama adalah masyarakat tempat industri berada. Mereka bisa masyarakat yang mendorong terbentuknya industri, dan mereka yang terpengaruh (dalam pengertian baik dan buruk) oleh industri.
Kedua, adalah kelompok orang yang ada di dalam industri dan menjalankan industri tersebut. Kelompok orang ini mengadakan interaksi satu sama lain sehingga dapat kita katakan sebagai masyarakat.
Bahasan mengenai kedua kelompok tersebut mestinya menjadi isi kuliah Sosiologi Industri.
<>
Pertanyaan selanjutnya adalah : dalam garis waktu sejarah manusia, masyarakat manakah yang sebaiknya dibahas, dalam kaitan membahas Sosiologi Industri? Jika waktu bukan penghalang, sebaiknya kita pelajari semua kasus yang pernah ada dalam sejarah manusia.
Tapi jika waktu yang tersedia terbatas, maka pembahasan dapat dibatasi pada kasus-kasus industrialisasi yang dianggap menonjol. Kriterianya adalah besarnya dampak industrialisasi yang terjadi, terhadap masyarakat.
Revolusi Industri di Inggeris yang terjadi antara 1760 – 1840, dianggap pemicu industrialisasi di seluruh dunia. Kita bisa menganggap perkembangan industri di berbagai negara (Jepang, Korea, China dll) saat ini merupakan hasil akhir dari rentetan peristiwa-peristiwa yang diawali Revolusi Industri tersebut. Ada perbedaan konteks lokal yang menarik untuk dipelajari.
<>
Menurut Horton dan Hunt, sebagaimana dikutip oleh buku Sosiologi, Teks Pengantar dan Terapan, terdapat beberapa profesi yang dapat diisi oleh para sosiolog.
1. sebagai ahli riset, baik itu riset ilmiah untuk kepentingan pengembangan keilmuan atau riset yang diperlukan oleh sektor industri;
2. sebagai konsultan kebijakan, khususnya ikut membantu untuk memperkirakan pengaruh dari kebijakan sosial tertentu;
3. sebagai teknisi atau yang populer disebut sosiolog klinis, yakni ikut terlibat dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan program kegiatan masyarakat;
4. sebagai guru atau pendidik yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar; dan
5. sebagai pekerja sosial (social-worker)
<>
Para mahasiswa Jurusan Teknik Industri yang sudah mengikuti kuliah Sosiologi Industri mungkin tidak akan seterampil mereka pernah kuliah di Jurusan Sosiologi. Walaupun begitu, diharapkan mereka dapat mempunyai cukup bahan pertimbangan agar dalam membuat perencanaan atau keputusan dapat menyiapkan antisipasi terhadap resistensi yang mungkin timbul dari masyarakat. Kalau perlu, dapat dilakukan pengkondisian tertentu sehingga rencana atau keputusan dapat dijalankan dengan baik.
Indonesia sudah pernah melakukan pekerjaan besar dalam “rekayasa sosial”. Misalnya : (1) membuat seluruh rakyat di wilayah seluas ini bersedia mengakui dan hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, (2) menjalankan keluarga berencana.
Untuk masa yang akan datang, kita mungkin perlu melakukan lebih banyak lagi. Misalnya : mengingkatkan etos kerja pada masyarakat.
Kompas Minggu, 3 Agustus 2008
Upaya China menjadi tuan rumah yang baik tak hanya meliputi usaha pembangunan fisik. Mereka juga berusaha mengubah kebiasaan warga Beijing, yang dinilai tidak disukai orang asing. Surat kabat The Wall Street Journal menulis, pemerintah mendistribusikan 4,3 juta buku panduan mengenai hal-hal yang tidak boleh dilakukan warga selama Olimpiade berlangsung.
Delapan hal tabu
Warga, misalnya, tak diperbolehkan memakai pakaian dengan lebih dari tiga warna berbeda. Buku ini juga menyebut warga tak boleh memakai kaus kaki putih yang dipadukan dengan sepatu hitam atau memakai piyama di tempat umum.
Buku panduan menyarankan warga Beijing tidak menanyai “delapan hal tabu” kepada orang asing, antara lain usia, status, serta keyakinan politik atau agama. Tak ketinggalan, buku etiket itu juga menyarankan wrga yang akan masuk ke dalam lift untuk membiarkan orang yang berda di dalam keluar terlebih dahulu.
Guna membuat Beijing sebagai tempat nyaman bagi sekitar 400.000 orang asing yang datang selama Olimpiade digelar, pemerintah setempat mengeluarkan aturan denda 50 yuan meludah di area publik
