Ada dua strategi generik yang disarankan oleh Porter untuk perusahaan yang ingin memenangkan persaingan dalam sektor industri yang dimasukinya : lower cost dan differentiation. Jika yang dibidik adalah pasar yang cukup luas sehingga volume produksi menjadi besar maka strategi lower cost ini juga disebut strategi cost leadership.
Dimulai oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia sejak tahun 1990-an, telah diterapkan apa yang disebut ERP (enterprise resources planning) system. ERP mengintegasikan dan mengotomatisasikan berbagai proses bisnis dan sistem informasi yang ada pada berbagai fungsi yang ada pada satu perusahaan (antara lain produksi, logistik, distribusi, akunting, keuangan dan SDM).
Combiphar berambisi meningkatkan pangsa pasarnya, yang saat itu hanya sebesar 2%, sedemikian sehingga dapat masuk ke deretan lima besar dalam pasar nasional bisnis farmasi. Bagaimana cara Combiphar melakukannya, dilaporkan oleh Majalah Warta Ekonomi, no. 07/THN.XV/9 April 2003. Ringkasan dari laporan tersebut adalah sebagai berikut.
Industri farmasi di Indonesia pada umumnya masih bersifat generik. Produk yang dihasilkan relatif seragam. Combiphar tidak memilih strategi product leadersip karena perlu dana besar untuk R&D. Melainkan, memilih strategi cost leadership. Untuk mendukung ambisi tersebut, Combiphar menerapkan ERP berbasis SAP. Dengan sendirinya, bersamaan dengan penerapan ERP ini, sekaligus dilakukan perbaikan proses bisnis.
Secara umum, dengan penerapan ERP ini maka terbentuk sistem informasi yang terpadu dan efisien. Dengan sistem informasi ini maka pembuatan keputusan dan perencanaan produksi menjadi lebih tepat, cepat dan akurat. Beberapa manfaat nyata yang diperoleh Combiphar dengan penerapan ERP ini adalah sebagai berikut.
1. Umur inventori bisa ditekan, dari 3 bulan menjadi 2 bulan. Dengan terjadi penghematan investasi untuk inventori sebesar Rp 20 miliar.
2. Laporan keuangan bisa selesai 10 hari lebih awal, dari biasanya tanggal 20 menjadi tanggal 10 setiap bulannya.
3. Perencanaan poduksi bisa dilakukan setiap minggu (tadinya setiap bulan). Kalau ada permintaan terhadap satu jenis obat, maka perhitungan biaya, perencanaan produksi, perkiraan waktu yang diperlukan, kebutuhan input yang diperlukan, semua dapat dilakukan dengan cepat sehingga kesempatan bisnis tidak hilang begitu saja. Tadinya hal ini sulit dilakukan, antara lain karena lokasi pabrik ada di Padalarang dan Kantor Pusat ada di Jakarta.
Total investasi untuk penerapan ERP ini adala US$ 1 juta, termasuk untuk pembelian software dan implementasinya. Penerapan memakan waktu sekitar sembilan bulan.