Bambang Setiawan on Management

5 November 2006

Management : Indonesia Cases

Filed under: 19 Uncategorized - Administrator @ 1:00 pm

Kalau kita cari buku manajemen, maka ada dua pilihan : buku impor (asli atau terjemahan), atau buku lokal. Kelebihan buku asing adalah contoh kasusnya yang seabreg, membuatnya lebih hidup.

Sebaliknya buku lokal, miskin dengan kasus. Mengapa ? Kabarnya menulis kasus perusahaan itu biayanya mahal. Tapi sebenarnya pengumpulan bisa dilakukan dengan mengutip dari media masa. Banyak sekali majalah dan koran yang memuat kiprah manajer-manajer Indonesia. Mungkin karena penulisnya tidak punya waktu untuk mengumpulkan kasus-kasus itu.

Tujuan dari blog ini adalah untuk mengumpulkan dan menyajikan kasus-kasus asli Indonesia, terutama yang berasal dari inovasi para manajer Indonesia. Para pengunjung blog ini dengan demikian dapat mengambil manfaat dari kasus-kasus yang dimuat, sekaligus memberi apresiasi kepada para manajer Indonesia yang sudah turut membangun ekonomi bangsa ini.

Kasus yang dipilih akan dikaitkan dengan konsep yang sudah dikenal atau dikemukakan dalam textbook.

Semoga kumpulan tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan mendorong tumbuhnya manajer-manajer baru.

Cost Leadership : kasus Combiphar

Filed under: 01 Strategic Mgt, 02 Operations Mgt, 04 Mgt Information System - Administrator @ 12:57 am

Ada dua strategi generik yang disarankan oleh Porter untuk perusahaan yang ingin memenangkan persaingan dalam sektor industri yang dimasukinya : lower cost dan differentiation. Jika yang dibidik adalah pasar yang cukup luas sehingga volume produksi menjadi besar maka strategi lower cost ini juga disebut strategi cost leadership.

Dimulai oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia sejak tahun 1990-an, telah diterapkan apa yang disebut ERP (enterprise resources planning) system. ERP mengintegasikan dan mengotomatisasikan berbagai proses bisnis dan sistem informasi yang ada pada berbagai fungsi yang ada pada satu perusahaan (antara lain produksi, logistik, distribusi, akunting, keuangan dan SDM).

Combiphar berambisi meningkatkan pangsa pasarnya, yang saat itu hanya sebesar 2%, sedemikian sehingga dapat masuk ke deretan lima besar dalam pasar nasional bisnis farmasi. Bagaimana cara Combiphar melakukannya, dilaporkan oleh Majalah Warta Ekonomi, no. 07/THN.XV/9 April 2003. Ringkasan dari laporan tersebut adalah sebagai berikut.

Industri farmasi di Indonesia pada umumnya masih bersifat generik. Produk yang dihasilkan relatif seragam. Combiphar tidak memilih strategi product leadersip karena perlu dana besar untuk R&D. Melainkan, memilih strategi cost leadership. Untuk mendukung ambisi tersebut, Combiphar menerapkan ERP berbasis SAP. Dengan sendirinya, bersamaan dengan penerapan ERP ini, sekaligus dilakukan perbaikan proses bisnis.
Secara umum, dengan penerapan ERP ini maka terbentuk sistem informasi yang terpadu dan efisien. Dengan sistem informasi ini maka pembuatan keputusan dan perencanaan produksi menjadi lebih tepat, cepat dan akurat. Beberapa manfaat nyata yang diperoleh Combiphar dengan penerapan ERP ini adalah sebagai berikut.
1. Umur inventori bisa ditekan, dari 3 bulan menjadi 2 bulan. Dengan terjadi penghematan investasi untuk inventori sebesar Rp 20 miliar.
2. Laporan keuangan bisa selesai 10 hari lebih awal, dari biasanya tanggal 20 menjadi tanggal 10 setiap bulannya.
3. Perencanaan poduksi bisa dilakukan setiap minggu (tadinya setiap bulan). Kalau ada permintaan terhadap satu jenis obat, maka perhitungan biaya, perencanaan produksi, perkiraan waktu yang diperlukan, kebutuhan input yang diperlukan, semua dapat dilakukan dengan cepat sehingga kesempatan bisnis tidak hilang begitu saja. Tadinya hal ini sulit dilakukan, antara lain karena lokasi pabrik ada di Padalarang dan Kantor Pusat ada di Jakarta.

Total investasi untuk penerapan ERP ini adala US$ 1 juta, termasuk untuk pembelian software dan implementasinya. Penerapan memakan waktu sekitar sembilan bulan.

1 November 2006

Co-branding dalam bisnis kartu kredit

Filed under: 03 Marketing Mgt - Administrator @ 9:18 am

Co-branding (atau dual branding) adalah kejadian dimana dua (atau lebih) brand dikombinasikan dalam satu penawaran pemasaran. Masing-masing pemilik brand mengharapkan brand yang menjadi mitranya itu, akan memperkuat preference konsumen atau intensi konsumen untuk membeli (Kotler, 2003, h434).

Di akhir tahun 2005, awal 2006, strategi co-branding dipakai dalam pemasaran kartu kredit di Indonesia, sebagaimana diberitakan dalam Majalah Trust no 18, 13-19 Februari 2006.

GE Finance Indonesia menggandeng Toko Swalayan Carrefour mengeluarkan Kartu Belanja Carrefour (KBC). Kerjasama ini berjalan sukses bagi GEFI, karena pemegang kartunya bertambah 400.000 unit dalam masa 3 tahun. Dari 1 juta kartu kredit GE, 40% berasal dari KBC.
Dari 45 gerai Carrefour di dunia, 20 di antaranya ada di Indonesia. Setiap gerai di Indonesia rata-rata dikunjungi 5000 pengunjung.

Adapun kartu kredit BNI menggandeng Matrix milik Indosat. Saat ini kartu kredit BNI mencapai 1 juta unit. Ada berbagai keuntungan yang diberikan pada pemegang kartu kredit Matrix-BNI, diantaranya adalah mereka medapatkan pelayanan informasi gratis. Nasabah bisa melakukan pembayaran tagihan Matrix secara autodebit. Dan, nasabah behak atas diskon tagihan hingga senilai Rp 450.000.

Sementara itu BII memilih Astra World dan Lion Air sebagai mitra co-branding. Dalam kemitraan ini , selain fasilitas-fasilitas yang diberikan pada nasabah, BII juga mendapatkan keuntungan karena dapat melihat database klien yang menjadi mitranya.

Citibank yang menggandeng Garuda sebagai mitra co-branding, mengharapkan dapat memperoleh tambahan nasabah baru yang berkualitas. Fasilitas yang diberikan pada nasabah adalah dalam hal point reward. Misalnya, kalau tiket Garuda dibeli dengan kartu kredit biasa, bonus yang diterima oleh nasabah adalah 600 bonus milage. Sedangkan kalau dengan kartu kredit Garuda Indonesia Citibank, bonusnya akan dua kali lipat, yaitu 1200 bonus milage. Pada kartu kreditnya terpampang logo dari masing-masing brand.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King